Jarum Cuaca terik tidak membuat keempat puluh insan yang dibalut kain berwarna putih dan abu-abu itu mengurangi rasa ceria dan ketidaksabarannya akan pelajaran yang akan dibawakan oleh sang inang pahlawan tanpa tanda jasa, seorang yang bisa dikategorikan sebagai orang tua mereka disaat mereka bernaung dibawah atap gedung bernama sekolah.
Guru itu masuk dengan berwibawa, dengan kacamata bulat mengilap memantulkan cahaya matahari yang menembus melewati jendela kelas yang tidak tertutup gorden. Kain merah hati bercorak bunga berkelopak sayu menyembunyikan surai-surainya yang mulai memutih sesuai dengan usianya. Seiring dengan langkah kakinya yang mantap, suara lantang dan tegas sang ketua murid memimpin ketiga puluh sembilan kawannya untuk memberi salam kepada wali kelasnya tercinta.
Wali Kelas itu tersenyum simpul, rasa terimakasihnya kepada keempat puluh anak-anaknya yang baru ditemuinya hari ini atas salam yang diberikan dengan lantang dan semangat oleh mereka. Beliau mengangkat daftar nama yang memuat seluruh nama insan dengan bermacam-macam karakter yang unik, dan menyuruh mereka untuk memperkenalkan masing-masing nama, dan idola mereka.
Anak pertama, berkromosom kembar, tampak akan menjadi pemegang setia peringkat pertama di kelas tersebut, berkata bahwa idolanya adalah ilmuwan yang berteori tentang evolusi manusia, karena menurutnya teori itu sangat pintar, dan memotivasinya untuk meneliti tentang evolusi manusia lebih jauh.
Anak pertama tersebut tentu saja mendapat riuh tepuk tangan dari seluruh kawan-kawan yang ada di kelas itu, menganggap itulah jawaban terhebat dari anak berusia lima belas tahun yang hidup di dunia ini. Wali Kelas pun tampak setuju dan memberikan tanda titik merah disebelah namanya, menandakan bahwa anak ini cemerlang. Lalu ia melanjutkan memanggil satu per satu nama, dan belum ada satupun anak yang mencuri hatinya seperti anak pertama tersebut.
Sampai ia memanggil anak keempat puluh.
Anak itu, bisa dikatakan memiliki takdir untuk menjadi peringkat bawah di kelas maupun di angkatan. Memang, intelektualnya tidak sebagus dan sehebat anak-anak lainnya yang memilih bahwa idolanya adalah penemu listrik atau pemuka agama—tapi anak ini benar-benar mencuri hati seluruh siswa yang ada di kelas, lebih dari anak pertama.
“Idolaku adalah Jarum, bu.”
“Jarum? Kenapa? Itu kan benda—”
“Iya bu, idolaku itu sebuah benda mati yang tidak penting. Tapi bu, aku benar-benar ingin seperti jarum. Kecil, dan tidak diperlukan bu. Tapi ketika hilang dan kau membutuhkannya, kau akan mencarinya setengah mati, dan gila ketika tidak menemukannya.
Aku benar-benar ingin seperti jarum, bu.”
Jarum
Cuaca terik tidak membuat keempat puluh insan yang dibalut kain berwarna putih dan abu-abu itu mengurangi rasa ceria dan ketidaksabarannya akan pelajaran yang akan dibawakan oleh sang inang pahlawan tanpa tanda jasa, seorang yang bisa dikategorikan sebagai orang tua mereka disaat mereka bernaung dibawah atap gedung bernama sekolah.
Guru itu masuk dengan berwibawa, dengan kacamata bulat mengilap memantulkan cahaya matahari yang menembus melewati jendela kelas yang tidak tertutup gorden. Kain merah hati bercorak bunga berkelopak sayu menyembunyikan surai-surainya yang mulai memutih sesuai dengan usianya. Seiring dengan langkah kakinya yang mantap, suara lantang dan tegas sang ketua murid memimpin ketiga puluh sembilan kawannya untuk memberi salam kepada wali kelasnya tercinta.
Wali Kelas itu tersenyum simpul, rasa terimakasihnya kepada keempat puluh anak-anaknya yang baru ditemuinya hari ini atas salam yang diberikan dengan lantang dan semangat oleh mereka. Beliau mengangkat daftar nama yang memuat seluruh nama insan dengan bermacam-macam karakter yang unik, dan menyuruh mereka untuk memperkenalkan masing-masing nama, dan idola mereka.
Anak pertama, berkromosom kembar, tampak akan menjadi pemegang setia peringkat pertama di kelas tersebut, berkata bahwa idolanya adalah ilmuwan yang berteori tentang evolusi manusia, karena menurutnya teori itu sangat pintar, dan memotivasinya untuk meneliti tentang evolusi manusia lebih jauh.
Anak pertama tersebut tentu saja mendapat riuh tepuk tangan dari seluruh kawan-kawan yang ada di kelas itu, menganggap itulah jawaban terhebat dari anak berusia lima belas tahun yang hidup di dunia ini. Wali Kelas pun tampak setuju dan memberikan tanda titik merah disebelah namanya, menandakan bahwa anak ini cemerlang. Lalu ia melanjutkan memanggil satu per satu nama, dan belum ada satupun anak yang mencuri hatinya seperti anak pertama tersebut.
Sampai ia memanggil anak keempat puluh.
Anak itu, bisa dikatakan memiliki takdir untuk menjadi peringkat bawah di kelas maupun di angkatan. Memang, intelektualnya tidak sebagus dan sehebat anak-anak lainnya yang memilih bahwa idolanya adalah penemu listrik atau pemuka agama—tapi anak ini benar-benar mencuri hati seluruh siswa yang ada di kelas, lebih dari anak pertama.
“Idolaku adalah Jarum, bu.”
“Jarum? Kenapa? Itu kan benda—”
“Iya bu, idolaku itu sebuah benda mati yang tidak penting. Tapi bu, aku benar-benar ingin seperti jarum. Kecil, dan tidak diperlukan bu. Tapi ketika hilang dan kau membutuhkannya, kau akan mencarinya setengah mati, dan gila ketika tidak menemukannya.
Aku benar-benar ingin seperti jarum, bu.”