Sekolah Menengah Kejuruan Sekolah Kejuruan Sebagai Penghasil Tenaga Terampil Ni Made Mira / X-B     Sekolah kejuruan—atau sekolah menengah kejuruan, adalah salah satu bentuk satuan pendidikan formal yang menyelenggarakan pendidikan formal yang menyelenggarakan pendidikan kejuruan pada jenjang pendidikan menengah setara MA atau SMA/SMU sebagai lanjutan dari SMP, MTs, atau bentuk lain yang sederajat atau lanjutan dari hasil belajar yang diakui sama/setara SMP/MTs. SMK sering disebut juga STM (Sekolah Teknik Menengah). Di SMK, terdapat banyak sekali Program Keahlian. Sebagaimana namanya, sekolah kejuruan memberi fasilitas kejuruan, sesuai dengan minat dan bakat sang anak tersebut, sehingga anak tersebut bisa mengembangkan apa yang dimilikinya dan menjadi tenaga kerja yang produktif, kreatif, dan inovatif. Setiap kurikulum SMK dibuat sedemikian rupa demi menunjang bakat dan minat yang berbeda sehingga tidak semua pelajaran diberikan—hanya yang dikira seperlunya saja. Lulusan SMK biasanya lebih professional dan lebih menguasai pekerjaannya karena lebih berpengalaman dalam bidangnya. Akan tetapi, pandangan masyarakat umum terhadap SMK biasanya sedikit merendahkan. Tidak sedikit orang-orang yang melarang anaknya masuk ke SMK karena alasan kuno; malu. Awam lebih merasa bahwa SMA masih sangat jauh lebih baik dari SMK dan mereka memasukkan anaknya ke SMK sebagai pilihan terakhir. Padahal sebenarnya SMK lebih baik karena menjuruskan dan menggembleng sang anak sehingga siap—sangat siap, untuk turun ke dunia kerja dan tidak akan kalah bersaing dengan pekerja lain.

Sekolah Menengah Kejuruan

Sekolah Kejuruan Sebagai Penghasil Tenaga Terampil

Ni Made Mira / X-B

 

 

Sekolah kejuruan—atau sekolah menengah kejuruan, adalah salah satu bentuk satuan pendidikan formal yang menyelenggarakan pendidikan formal yang menyelenggarakan pendidikan kejuruan pada jenjang pendidikan menengah setara MA atau SMA/SMU sebagai lanjutan dari SMP, MTs, atau bentuk lain yang sederajat atau lanjutan dari hasil belajar yang diakui sama/setara SMP/MTs. SMK sering disebut juga STM (Sekolah Teknik Menengah). Di SMK, terdapat banyak sekali Program Keahlian.

Sebagaimana namanya, sekolah kejuruan memberi fasilitas kejuruan, sesuai dengan minat dan bakat sang anak tersebut, sehingga anak tersebut bisa mengembangkan apa yang dimilikinya dan menjadi tenaga kerja yang produktif, kreatif, dan inovatif. Setiap kurikulum SMK dibuat sedemikian rupa demi menunjang bakat dan minat yang berbeda sehingga tidak semua pelajaran diberikan—hanya yang dikira seperlunya saja. Lulusan SMK biasanya lebih professional dan lebih menguasai pekerjaannya karena lebih berpengalaman dalam bidangnya.

Akan tetapi, pandangan masyarakat umum terhadap SMK biasanya sedikit merendahkan. Tidak sedikit orang-orang yang melarang anaknya masuk ke SMK karena alasan kuno; malu. Awam lebih merasa bahwa SMA masih sangat jauh lebih baik dari SMK dan mereka memasukkan anaknya ke SMK sebagai pilihan terakhir. Padahal sebenarnya SMK lebih baik karena menjuruskan dan menggembleng sang anak sehingga siap—sangat siap, untuk turun ke dunia kerja dan tidak akan kalah bersaing dengan pekerja lain.

She is-- mirlcholstein: she would never win against me mirlcholstein: because i'm more in everything than heeeer of course mirlcholstein: the best thing on her life is just because she still alive mirlcholstein: she even has no good side on my life though -_- mirlcholstein: ok? let's have a list. mirlcholstein: her BODY mirlcholstein: she's uglier than me (oho! i'm not praising myself, i'm not playing that game) mirlcholstein: she's taller, ok, but she's fat, so it concidered BAD mirlcholstein: her skin is white - but her white face is soooo mami slimmy mirlcholstein: what else what else mirlcholstein: her BRAIN of course mirlcholstein: she only think about copying another chica's works!!!!! mirlcholstein: no creativity at all mirlcholstein: both her left and right brain sides DO NOT work properly mirlcholstein: her linguistic skill is like wet thin tissues mirlcholstein: and of course she doesn't know anything about MUSIC mirlcholstein: she's good at mathematic? oh, talk to my ass mirlcholstein: i'd better eat my underwear if i heard someone say that she's good at sport mirlcholstein: aaand she's suck at science too mirlcholstein: she's not worth better than my ugly cotton bud mirlcholstein: at least i still need that ugly cotton bud when my ears got itchy mirlcholstein: but that chiquitta? oh puhlease mirlcholstein: call my mami a bitch if i say something wrong here
Time to Say Goodbye Con te partiro. But we have to say goodbye. The most plinplan song I ever know -_- but I like this song :d

Time to Say Goodbye

Con te partiro.

But we have to say goodbye.

The most plinplan song I ever know -_- but I like this song :d

Jarum Cuaca terik tidak membuat keempat puluh insan yang dibalut kain berwarna putih dan abu-abu itu mengurangi rasa ceria dan ketidaksabarannya akan pelajaran yang akan dibawakan oleh sang inang pahlawan tanpa tanda jasa, seorang yang bisa dikategorikan sebagai orang tua mereka disaat mereka bernaung dibawah atap gedung bernama sekolah. Guru itu masuk dengan berwibawa, dengan kacamata bulat mengilap memantulkan cahaya matahari yang menembus melewati jendela kelas yang tidak tertutup gorden. Kain merah hati bercorak bunga berkelopak sayu menyembunyikan surai-surainya yang mulai memutih sesuai dengan usianya. Seiring dengan langkah kakinya yang mantap, suara lantang dan tegas sang ketua murid memimpin ketiga puluh sembilan kawannya untuk memberi salam kepada wali kelasnya tercinta. Wali Kelas itu tersenyum simpul, rasa terimakasihnya kepada keempat puluh anak-anaknya yang baru ditemuinya hari ini atas salam yang diberikan dengan lantang dan semangat oleh mereka. Beliau mengangkat daftar nama yang memuat seluruh nama insan dengan bermacam-macam karakter yang unik, dan menyuruh mereka untuk memperkenalkan masing-masing nama, dan idola mereka. Anak pertama, berkromosom kembar, tampak akan menjadi pemegang setia peringkat pertama di kelas tersebut, berkata bahwa idolanya adalah ilmuwan yang berteori tentang evolusi manusia, karena menurutnya teori itu sangat pintar, dan memotivasinya untuk meneliti tentang evolusi manusia lebih jauh. Anak pertama tersebut tentu saja mendapat riuh tepuk tangan dari seluruh kawan-kawan yang ada di kelas itu, menganggap itulah jawaban terhebat dari anak berusia lima belas tahun yang hidup di dunia ini. Wali Kelas pun tampak setuju dan memberikan tanda titik merah disebelah namanya, menandakan bahwa anak ini cemerlang. Lalu ia melanjutkan memanggil satu per satu nama, dan belum ada satupun anak yang mencuri hatinya seperti anak pertama tersebut. Sampai ia memanggil anak keempat puluh. Anak itu, bisa dikatakan memiliki takdir untuk menjadi peringkat bawah di kelas maupun di angkatan. Memang, intelektualnya tidak sebagus dan sehebat anak-anak lainnya yang memilih bahwa idolanya adalah penemu listrik atau pemuka agama—tapi anak ini benar-benar mencuri hati seluruh siswa yang ada di kelas, lebih dari anak pertama. “Idolaku adalah Jarum, bu.” “Jarum? Kenapa? Itu kan benda—” “Iya bu, idolaku itu sebuah benda mati yang tidak penting. Tapi bu, aku benar-benar ingin seperti jarum. Kecil, dan tidak diperlukan bu. Tapi ketika hilang dan kau membutuhkannya, kau akan mencarinya setengah mati, dan gila ketika tidak menemukannya. Aku benar-benar ingin seperti jarum, bu.”

Jarum

Cuaca terik tidak membuat keempat puluh insan yang dibalut kain berwarna putih dan abu-abu itu mengurangi rasa ceria dan ketidaksabarannya akan pelajaran yang akan dibawakan oleh sang inang pahlawan tanpa tanda jasa, seorang yang bisa dikategorikan sebagai orang tua mereka disaat mereka bernaung dibawah atap gedung bernama sekolah. Guru itu masuk dengan berwibawa, dengan kacamata bulat mengilap memantulkan cahaya matahari yang menembus melewati jendela kelas yang tidak tertutup gorden. Kain merah hati bercorak bunga berkelopak sayu menyembunyikan surai-surainya yang mulai memutih sesuai dengan usianya. Seiring dengan langkah kakinya yang mantap, suara lantang dan tegas sang ketua murid memimpin ketiga puluh sembilan kawannya untuk memberi salam kepada wali kelasnya tercinta. Wali Kelas itu tersenyum simpul, rasa terimakasihnya kepada keempat puluh anak-anaknya yang baru ditemuinya hari ini atas salam yang diberikan dengan lantang dan semangat oleh mereka. Beliau mengangkat daftar nama yang memuat seluruh nama insan dengan bermacam-macam karakter yang unik, dan menyuruh mereka untuk memperkenalkan masing-masing nama, dan idola mereka. Anak pertama, berkromosom kembar, tampak akan menjadi pemegang setia peringkat pertama di kelas tersebut, berkata bahwa idolanya adalah ilmuwan yang berteori tentang evolusi manusia, karena menurutnya teori itu sangat pintar, dan memotivasinya untuk meneliti tentang evolusi manusia lebih jauh. Anak pertama tersebut tentu saja mendapat riuh tepuk tangan dari seluruh kawan-kawan yang ada di kelas itu, menganggap itulah jawaban terhebat dari anak berusia lima belas tahun yang hidup di dunia ini. Wali Kelas pun tampak setuju dan memberikan tanda titik merah disebelah namanya, menandakan bahwa anak ini cemerlang. Lalu ia melanjutkan memanggil satu per satu nama, dan belum ada satupun anak yang mencuri hatinya seperti anak pertama tersebut. Sampai ia memanggil anak keempat puluh. Anak itu, bisa dikatakan memiliki takdir untuk menjadi peringkat bawah di kelas maupun di angkatan. Memang, intelektualnya tidak sebagus dan sehebat anak-anak lainnya yang memilih bahwa idolanya adalah penemu listrik atau pemuka agama—tapi anak ini benar-benar mencuri hati seluruh siswa yang ada di kelas, lebih dari anak pertama. “Idolaku adalah Jarum, bu.” “Jarum? Kenapa? Itu kan benda—” “Iya bu, idolaku itu sebuah benda mati yang tidak penting. Tapi bu, aku benar-benar ingin seperti jarum. Kecil, dan tidak diperlukan bu. Tapi ketika hilang dan kau membutuhkannya, kau akan mencarinya setengah mati, dan gila ketika tidak menemukannya. Aku benar-benar ingin seperti jarum, bu.”

(via fuckyeahuhljjang)

GOSH! HE IS JUST TOO CUTE TO RESIST!
/dies.

Park Seung-hyun, saranghaeyo!